Positive Thinking: Pengendali Telomer si Jam Biologis Sel

Helooo ges..

Blog kali ini akan berisi bahasan yang menurut gw sedikit berat (pas nulis nya) , tapi ringan (buat di baca) sksksk. 

Btw, sebenarnya tulisan ini adalah draft lomba gw nulis esai - setelah ikut kelas nulis. Tapi ga menang ehehhe, jadi gapapa.

Dan tulisan ini juga udah banyak gw edit agar bahasanya nggak terlalu baku untuk dibaca umum :)

_____

Manusia merupakan mahluk sosial yang memiliki banyak aktivitas dalam kehidupan nya. Baik untuk rentang usia anak-anak, remaja hingga lansia. Namun, dibandingkan dengan generasi anak-anak dan lansia, faktanya remaja- dewasa memiliki lebih banyak aktivitas yang harus dijalani setiap harinya. Berbagai aktivitas yang dilakukan tidak sedikit akan menimbulkan masalah, yang mengakibatkan stress bagi mereka. Menurut Kementerian Kesehatan (2019) Stres ini adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang untuk menyesuaikan diri. Reaksi yang terjadi secara fisik ataupun psikologis pada manusia akan mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan dan juga penuaan dini lhoo... 

Dizaman yang super duper sibuk ini stress banyak terjadi pada manusia, dimana World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 450 juta orang di dunia mengalami stress, sedangkan di Indonesia sendiri tercatat sekitar 10 % dari total penduduk Indonesia mengalami stres.. 

Nah, yang semua kita tau sebenarnya secara biologis, tubuh kita ini lambatlaun akan mengalami penurunan fungsi tubuh secara alami- penuaan. Menurut hitungan angka masyarat umum, seseorang yang disebut dengan generasi lanjut usia atau yang telah mengalami tanda-tanda penuaan yaitu yang telah berumur lebih dari setengah abad. Sedangkan, menurut WHO (1985) seseorang yang dapat dikatakan tua atau lanjut usia yaitu jika telah menginjak umur 65 tahun, dimana penuaan tersebut disebut dengan penuaan kronologis. 

Namun, pada zaman ini banyak manusia yang telah mengalami tanda-tanda penuaan secara fisik hingga menurunnya fungsi tubuh sebelum waktunya, yang disebut dengan penuaan dini. Penuaan dini ini umumnya terjadi pada seseorang yang telah mengalami tanda-tanda penuaan berumur umur 25- 30 tahun. Hal ini dapat terjadi pada seseorang yang melakukan hal-hal yang dapat meyebabkan penuaan dini, salah satunya yaitu stress. 

Mekanisme penuaan pada manusia ternyata bermula pada proses dari kerja sel somatik (sel tubuh). Sel tubuh manusia yang kita tahu terdapat DNA (materi genetik) yang menggulung membentuk kromosom,dimana manusia memiliki 23 pasang kromosom dalam selnya. Salah satu bagian dari kromosom tersebut yaitu Telomer. Telomer merupakan susunan basa-basa nukleutida pendek (TTAGGG) secara berulang sebanyak ratusan hingga ribuan kali, dimana salah satu fungsi khususnya yaitu melindungi DNA dari bahaya selama proses replikasi sel (Asok et al., 2013). Telomer memiliki sifat yang dinamis, yaitu dapat terjadi perubahan bentuk karena adanya reduksi (memendek) yang terjadi saat setiap sel mengalami replikasi.  Dimana secara khusus, panjang dari Telomer pada kromosom seseorang merupakan suatu penanda terjadinya penuaan dan terkait dengan terjadinya stress psikologis (Epel et al., 2020).

Reaksi tubuh manusia secara fisik dan psikologis ini akan menyebabkan sel tubuh akan lebih aktif untuk bereplikasi, sehingga reduksi bagian telomer akan cepat terjadi dan akan mengakibatkan efek penuaan terhadap tubuh baik secara fisik atau psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa, salah satu cara yang dapat mengurangi resiko terjadinya penuaan dini yaitu dengan menghindari tubuh dari stress fisik ataupun psikologis. 

Namun umumnya, stress yang sering terjadi pada manusia yaitu Stress psikologis, yang disebabkan karena pikiran-pikiran negatif yang dilakukan oleh manusia tersebut. Tentu hal ini menjadi dasar utama untuk mengendalikan diri dalam berpikir, karena pikiran negatif yang terbentuk akan menyebabkan stress psikologis dalam tubuh. Sedangkan, sebaliknya pikiran-pikiran positif dapat membantu tubuh dalam mengendalikan replikasi sel secara baik. 

Berpikir positif (positive thinking) memiliki banyak manfaat bagi diri seseorang yaitu dapat menyeimbangkan hati dan tindakan sehingga mencapai kedamaian mental. Selain itu, berfikir positif juga dapat menghindari tubuh dari stress fisik dan psikologis. Berpikir positif merupakan pengaplikasian diri untuk mengatasi kekalahan dan memenangkan kepercayaan serta menciptakan suasana yang menguntungkan bagi perkembangan hasil yang positif (Peale, 1996 dalam Kholidah & Alsa, 2012). Pikiran- pikiran positif yang selalu ditanamkan dalam otak (pikiran sadar) akan mempengaruhi pikiran alam sadar (subconscious mind), sehingga akan menjadikan diri untuk selalu melakukan tindakan-tindakan positif. Hasil dari berpikir positif juga akan mengurangi terbentuknya oxidation stress yang berbahaya bagi telomer pada kromosom. 

Penuaan merupakan proses alami yang terjadi dalam tubuh manusia, dimana pada tahap ini tubuh manusia akan mengalami penurunan fungsi tubuh secara perlahan. Proses ini terjadi karena adanya pengaruh dari umur sel dalam tubuh kita yang memiliki jam kematian, yang disebut telomer. Keberadaan telomer pada kromosom manusia berfungsi untuk memperlambat/ mempercepat penuaan pada manusia. Penuaan bukanlah suatu patologi yang dapat dihindari oleh manusia, namun penuaan dapat diperlambat prosesnya yaitu dengan menghindari hal-hal yang dapat mempercepat terjadinya penuaan, salah satunya yaitu stress. Stress yang terjadi pada manusia akan mengakibatkan sel lebih sering melakukan replikasi dan telomer kromosom akan semakin memendek. Sehingga, salah satu faktor yang dapat mempercepat penuaan pada tubuh yaitu adanya reaksi stress dalam tubuh. Hal yang dapat menghindari diri terjadinya stress yaitu dengan terus berpikir positif, sehingga akan menghasilkan kedamaian hati dan perilaku yang positif. 


Daftar pustaka

Asok, A., Bernard, K., Roth, T. L., Rosen, J. B., & Dozier, M. (2013). Parental responsiveness moderates the association between early-life stress and reduced telomere length. Development and Psychopathology, 25(3), 577–585. https://doi.org/10.1017/S0954579413000011

Epel, E. S., Prather, A. A., & Francisco, S. (2020). Stress, Telomeres, and Psychopathology: Toward a Deeper Understanding of a Triad of Early Aging. Annu Rev Clin Psychol, 14(07), 371–397. https://doi.org/10.1146/annurev-clinpsy-032816-045054.Stress

Kementerian Kesehatan. (2019). http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stress/apakah-yang-dimaksud-stres-itu . (diakses 13 juli 2022)

Kholidah, E., & Alsa,  a. (2012). Berpikir Positif untuk Menurunkan Stres Psikologis. Jurnal Psikologi, 39(1), 67–75. http://jurnal.psikologi.ugm.ac.id/index.php/fpsi/article/view/180


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPKAH KAU TUK PATAH HATI??

SERAPUH ITUKAH JIWAKU?

Wanita Hebat Dunia (yang tak pernah hilang) Part 1