Mencoba atau tidak pernah berhasil.

Warning!!!

Sebelum baca blog gw yang ini, ada baik nya kalian baca blog gw sebelumnya dulu yang judulnya KEBETULAN. Terimakasih.

Bisa terbitin buku. Wah ini sih cita-cita gw sejak dulu. Di diary gw ataupun di daily journal gw halaman depannya selalu gw tulis itu. Kenapa? Karena, kata para motivator-motivator hebat; apapun yang kita sering tulis, sering ucapkan, itulah yang akan terjadi pada diri kita. Tapi harus di barengin dengan usaha juga yaa pastinya. So, berucap dan tulislah yang baik-baik untuk diri kita. InsyaAllah semuanya akan ter-realisasikan satu persatu. Aamiin.

Menurut gw, nggak ada cita-cita ataupun impian kita yang terlalu besar atau tinggi. Besar atau tinggi nya itu hanya diliat dari siapa yang mengatakan dan dari seberapa seimbangnya usaha kita. Begini, misalkan kalian bermimpi mau menciptakan sesuatu, belum ada di dunia ini (wah mantap nih). Terus ada yang ngeremehin kalian "ahh lo sok-sok an mau nyiptain itu, terlalu tinggi mimpi lo". Gimana? Langsung down? pasti dong apalagi kalau usaha kita nya nggak seimbang dengan cita-cita kita tersebut. Tapi kalau usaha kita udah paling maksimal untuk mewujudkan cita-cita itu, pasti kita nggak akan tuh yang namanya nyerah. Semoga kita siap untuk mendapatkan penilaian orang lain dan tetap kuat untuk mewujudkan cita-cita kita. Kita harus sama-sama belajar dan menguatkan. 

Disalah satu bab bukunya Ahmad Rifa'i Rifan yang judulnya Man Shabara Shafira, ada bagian yang menjelaskan. Kalau kita punya cita-cita, katakan pada orang-orang atau bahkan pada dunia. Bukan untuk menjadi omong kosong, tapi untuk mencari dukungan dari mereka dan juga kepercayaan mereka sehingga kita lebih semangat untuk mewujudkan nya. Kalian setuju? gw setuju. Ternyata hal ini bener banget berlaku buat diri gw. Kalau kalian udah baca blog gw yang judulnya Kebetulan, disitu gw menceritakan sedikit kalau gw lagi ngikutin nulis buku Antologi bareng Ahmad Rifa'i Rifan dan puluhan penulis lain nya di Indonesia. Gw tau info itu dari siapa? yaps, temen gw. Setelah dia baca blog gw yang pertama, gw ceritain tuh kalo gw suka nulis, mau nulis buku. Dan, kebesokan harinya dia langsung ngasih info itu ke gw. Secepat itu? iyaa, begitu kira-kira cara kerjanya. Tapi gw percaya, hal tersebut juga nggak terlepas dari izin-Nya.

Buat gw, mengambil keputusan itu bukan hal yang mudah, semuanya gw pikirin. Labil. Pas hari itu temen gw ngasih info ternyata hari itu juga pendaftaran terakhirnya. Dilema luar biasa gw. "Kira-kira gw siap nggak yaa?" "ahh, baru kmrn gw nulis blog masa udah mau ikutan nulis buku Antologi sih". Kalau ada yang bilang "Lebay lo mel, lu tuh cuma nulis buku Antologi bukan nulis buku solo". Wajar kalau ada yang bilang gitu, karena kadar ketidakpercayaan diri orang pasti beda-beda kan. Gw cuma mempertimbangkan apa yang nanti gw tulis akan bermanfaat untuk orang lain baca? atau tulisan gw udah layak untuk dicetak?. Karena menurut gw, disaat gw mengecewakan orang lain, tentu aja secara nggak langsung gw juga mengecewakan diri gw sendiri. 

Kalau nggak kita coba nggak akan tahu gimana hasilnya nanti. Kita nggak akan tahu makanan itu enak atau nggak kalau kita nggak nyobain, kalau itu enak kita akan lanjut makan tapi kalau itu nggak enak kita bisa cari makanan yang lain. Begitu kira-kira perumpaan yang gw katakan pada diri gw. Info yang temen gw kasih ini mungkin satu langkah gw untuk bisa mengenal dunia nulis menulis lebih dalam, tentunya atas izin-Nya juga. Akhirnya, dipenghujung pendaftaran gw bulatkan niat gw. Kalau kita mencoba akan ada kemungkinan kita gagal dan juga berhasil. Tapi ketika kita nggak pernah mencoba kita memang nggak mempunyai kemungkinan gagal, tapi kita juga nggak mempunyai kemungkinan untuk berhasil. Kalau kita gagal setelah mencoba itu wajar, karena gagal adalah salah satu hasil yang kita dapatkan dari mencoba. Gagalnya bukan untuk kita menyerah, tapi untuk suatu pelajaran. 

Tulisan pertama gw udah selesai gw tulis, tapi ternyata tulisan gw nggak diterima karena terlalu panjang dan bertele-tele. Akhirnya gw harus ngerevisi lagi. Bukan waktu yang singkat dan mudah memang bagi gw pemula untuk menulis. Tulisan gw harus bermafaat, berbobot, dan meninggalkan makna yang berarti untuk pembaca gw. Sekitar seminggu setelah gw ngirim tulisan gw, gw dikabarin sama pihak penerbit kalau bukunya dalam proses cetak dan gw boleh memasarkan buku gw untuk bisa ikut cetakan pertama. 

Didunia ini nggak ada yang instan. Mie instan? lo tetep harus masak dulu, paling cepet ya 5 menit itu udah mateng dan siap makan. Begitu pun dengan usaha gw, nggak semudah yang gw bayangkan, masarin buku yang di dalam nya ada tulisan gw sendiri tuh nggak mudah, apalagi gw bukan terkenal oleh orang banyak sebagai penulis hebat, gw cuma penulis blog yang baru aja berani ngepublish 1 tulisan nya. Gimana gw bisa mempercayakan orang-orang? yaa seperti itu... 

Tapi gimana pun juga, usaha kita nggak akan ada yang sia-sia. Usaha gw untuk memasarkan buku itu membuat gw belajar; menjadi penulis nggak semudah gw nulis, cetak dan taro di toko buku. Menjadi penulis itu, kita harus meyakinkan orang-orang disekitar kita bahwa kita bisa melakukan nya, bahwa ini lah karya gw. Terus gw merasa gagal untuk ikut nulis buku Antologi ini? nggak sama sekali, yang namanya percobaan pertama gagal itu wajar. Tapi seterus nya harus lebih baik. 

Tulisan karya gw dalam buku Antologi "Hope for a better day"

Dari diterbitkan nya buku ini. Banyak banget pelajaran yang gw dapatkan, bukan hanya persoalan tulis menulis yang selalu mendilemakan gw. Tapi juga soal bagaimana gw melihat dari berbagai sudut pandang isi dari buku ini, tulisan-tulisan mereka sangat-sangat bermanfaat buat gw, dan gw pun percaya, dari ribuan buku ini yang udah kesebar di seluruh Indonesia tulisan gw akan bermanfaat walaupun itu hanya untuk satu orang, dan gw juga belajar untuk menghargai cerita-cerita kehidupan manusia-manusia di luar sana. Bukan hanya kita yang diuji oleh-Nya, bukan hanya kita yang mendapatkan kehidupan yang tidak mengenakan.Di luar sana jauh lebih banyak, teruslah belajar untuk memaknai hidup untuk tetap bersyukur~


Terimakasih teruntuk Ade Cici, dan temen-temen gw yang lain nya yang selalu ngedukung gw. I love you. 

blog selanjutnya gw akan ngebahas tentang tulisan gw yang judulnya "Gagal itu perlu untuk tetap bersyukur".

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPKAH KAU TUK PATAH HATI??

SERAPUH ITUKAH JIWAKU?

Wanita Hebat Dunia (yang tak pernah hilang) Part 1